jump to navigation

Belum ada judul April 18, 2010

Posted by nulissesukahati in Uncategorized.
trackback

Seorang anak kecil berlari menemui bapaknya dengan tergesa-gesa. Umurnya baru 4 tahun, dengan sepasang sandal gapit kecil di kakinya  Sandal itu terlihat sudah usang dan terlihat kotor sekali sepertinya sudah dipakainya bermain di lumpur sehingga terlihat noda-noda yang tak pernah dicuci oleh orang tuanya. Bajunya terlihat kekecilan dengan satu kancing diatasnya copot, dan untunglah masih ada didalam bajunya kaus oblongnya, pun terlihat kekecilan.  Bapaknya masih saja terlihat sibuk dengan kedatangan anaknya itu. Sehingga tak dilihatnya anaknya itu berlari menghampirinya.

Bapaknya adalah penjual sayur mayur dan bumbu dapur dipasar. Setiap hari dia pergi bersama dengan istrinya dan anak mata wayangnya itu pagi-pagi sekali untuk membeli  bahan-bahan untuk jualannya. Dia dan istrinya tidak mempunyai saudara di kota ini  untuk menitipkan anak perempuannya yang masih kecil itu. Sehingga setiap pagi-pagi sehabis subuh berangkatlah mereka bertiga mengendarai becak yang dikayuh oleh pak Rahman, sang kepala keluarga yang sudah berumur 35 tahun itu. Setelah berkulakan di pasar induk yang ditempuhnya setengah jam dari kos-kosannya, dan membeli keperluan jualan maka satu jam kemudian berangkatlah meningggalkan pasar  induk itu menuju pasar tradisional yang ditempuh dalam waktu satu jam. 2,5 jam waktu yang ditempuh setiap paginya untuk dapat memulai aktivitasnya berjualan. Si kecil yang tidak sempat mandi pagi, hanya diseka saja sebelum berangkat, terlihat menikmati perjalanan setiap harinya dengan kedua orang tuanya tersebut. Disepanjang pagi si kecil biasanya masih menikmati  tidurnya dalam selendang gendong dan dekapan hangat sang ibu meski udara pagi begitu dingin dan menusuk kulit.

Isri pak Rahman juga sedang sibuk membereskan dan menata jualannya, sehingga tidak begitu menghiraukan anaknya yang barusan saja bermain dengan andi, anak penjual tempe dilapak sebelah. Anak kecil yang bernama Qoiriyah itu berlari-lari mendekati bapaknya dan menunjuk-nunjuk pada si penjual balon yang tak pernah dilihatnya di pasar itu. “Pak, pak aku belikan balon itu pak, yang kayak ipin dan upin itu !”.  Sang bapak yang sedang sibuk menoleh ke anaknya dan melihat balon yang ditunjuk oleh anaknya. ”Nanti aja ya nak, bapak kan belum ada pembeli, nanti kalo dagangan bapak sudah laku nanti bapak belikan”, begitu sang bapak menyenangkan hati anaknya  dengan mengelu-ngelus rambut anak perempuannya tersebut. ”Balon, balon pak,..aku mau balon itu”, Qoiriyah tetap bersikeras agar sang bapak membelikan balon itu untuknya.

Akhirnya menyerahlah sang bapak pada keinginan putri semata wayangnya itu, dengan sedikit menawar dan membayar penjual balon, berpindahlah balon itu dalam genggaman sang bocah kecil yang lucu itu. Segera dia berlari dan bergabung kembali dengan teman mainnya Andi yang melihat tingkahnya dari kejauhan. Pak Rahman dan bu Rahman sejurus sudah siap dengan barang dagangannya dan beberapa pembeli mulai berdatangan meramaikan lapak sayur mayur mereka. Terlihat bu Rahman melayani para pembeli yang membeli sayur mayur dengan sesekali melihat anak kecilnya tersebut. Sedangkan pak Rahman juga tampak sibuk membantu menimbang sayur dan bumbu untuk pembelian kiloan.

Hari berganti  siang dan barang dagangan pak Rahman dan istrinya bu Rahman sudah tersisa sedikit. Sisa dagangan tersebut dimasukkan ke dalam kantong goni dengan melapisinya terlebih dahulu dengan kertas koran bekas. Tiap jenis sayur dibungkus dalam satu selongsong kertas koran dan semua selongsong-selongsong sayur tersebut dimasukkan ke dalam kantong goni. Sedangkan bumbu dapur yang tersisa juga dimasukkan ke dalam kantong-kantong yang terbuat dari tali yang dipilin. Dan pada akhirnya semuanya dimasukkan ke dalam kantong goni yang berbeda dengan kantong goni yang berisi sayuran tadi.

Si kecil terlihat beberapa kali menguap karena mengantuk dan lelah dalam gendongan bu Rahman. Semua barang dagangan yang tersisa sudah dimasukkan ke dalam becak pak Rahman yang sudah siap untuk membawa pulang serta istri dan anaknya. ” Ayo bu, naik ke becak, kasihan Qoiriyah sudah ngantuk itu”, kata pak Rahman kepada bu Rahman. Bu Rahman duduk disamping karung goni yang ditumpuk. Becak itu memang lebih lebar dari becak kebanyakan karena memang dibuat khusus untuk mengangkut barang dagangan sekaligus dapat memuat istri dan anaknya.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.